STERILISASI
Sterilisasi
merupakan salah satu faktor utama dalam fermentasi. Kita tentu mengharapkan
tidak terjadi kontaminasi di mana mikroorganisme yang tidak diinginkan tumbuh
dan mengganggu proses fermentasi. Teknik sterilisasi berbeda-beda tergantung
pada jenis material. Bagian pertama akan menjelaskan secara singkat dan
sederhana bagaiman sterilisasi cairan dan padatan.
Sterilisasi
cairan
Cairan
yang disterilisasi umumnya adalah media fermentasi yang mengandung gula, garam
fosfat, ammonium, trace metals, vitamin, dan lain-lain. Secara
umum ada dua cara sterilisasi cairan yaitu dengan panas dan disaring
(filtrasi). Sterilasi dengan panas dilakukan di dalam autoclave,
di mana steam tekanan tinggi diinjeksikan ke dalam chamber untuk
mencapai temperatur 121 derajat C dan tekanan tinggi (sekitar 15 psig).
Durasinya bervariasi, namun umumnya diinginkan cairan dipertahankan pada 121
derajat C selama minimal 15 menit. Jika termasuk waktu untuk heating dan
cooling steps, total waktu berkisar 1-2 jam tergantung volume cairan
yang disterilisasi. Terkadang temperatur bisa diset pada 134 derajat C
(untuk medis).
Laboratory autoclave
Untuk
skala industri, cairan disterilisasi dengan panas menggunakan beberapa pilihan
teknik. Gambar di bawah menjelaskan salah satu bagan proses sterilisasi cairan
media di industri. Banyak jenis proses baik secara batch atau continuous
yang diterapkan di industri, misalnya direct steam, indirect heating,
indirect steam, dan lainnya.
Sterilisasi
medium di industri bioproses. Sumber: Doran, M.P (1995), Bioprocess Engineering
Principles, chapter 13, Academic Press
Cairan
dapat disterilisasi juga dengan disaring menggunakan membrane filter
berpori 0.22 atau 0.45 micro meter. Metode ini cocok untuk volume cairan yang
kecil (1-2 liter) dan bahan kimia yang bisa rusak karena panas misalnya gula
dan protein.
Sterivex, membran buatan Millipore
yang umum digunakan untuk sterilisasi cairan dalam jumlah kecil yang tidak
tahan panas.
Sterilisasi
padatan
Padatan
yang umum disterilkan adalah glassware, biosafety cabinet,
dan beberapa jenis tabung dan kontainer. Pada glassware dan
plastik tahan panas umumnya dilakukan dengan autoclave mirip seperti
sterilisasi cairan namun ditambah proses pengeringan. Biosafety cabinet
disterilkan dengan bantuan radiasi UV dan disemprot ethanol 70 %. Udara dalam
cabinet disaring dengan filter.
A.Sediaan Steril
1. Definisi
Sediaan
steril adalah sediaan terapetis dalam bentuk terbagi – bagi yang bebas dari mikroorganisme
hidup. Sterilisasi adalah proses yang
dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara tradisional keaadan steril
adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan
penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah
istilah yang mempunyai konotasi relative, dan kemungkinan menciptakan kondisi
mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dapat proyeksi kinetis
angka kematian mikroba.
2. Macam – macam sediaan
Macam-macam sediaan steril umumnya terdiri
atas sediaan parenteral, sediaan untuk mata, dan larutan irigasi.
a. Sediaan parenteral
Merupakan sediaan yang disuntikan melalui kulit atau
membrane mukosa ke bagian dalam tubuh. Karena sediaan tersebut harus menembus
membrane kulit dan mukosa, sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi
mikroba dan dari komponen toksis dan harus mempunyai tingkat kemurnian yang
tinggi
b. Sediaan untuk mata
Merupakan sediaan yang membutuhkan sterilitas karena
walaupun sediaan ini tidak dimasukkan kedalam rongga bagian dalam tubuh , namun
ditempatkan berhubungan dengan jaringan-jaringan yang sangat peka terhadap
kontaminasi
c. Larutan irigasi
Larutan irigasi harus memiliki standard yang sama dengan larutan parenteral,
karena selama pemberian dengan irigasi, sejumlah zat dari larutan dapat
memasuki aliran darah secara langsung melalui pembuluh darah luka yang terbuka
atau membrane mukossa yang lecet
Contoh sediaan steril
a. LVPs
1. Water for Injection USP
2. Dextrose Injection USP
b. SVPs
1. Ranitidin injection USP
2. Progesteron injection BP
3. Epinephrine Oil Suspension USP
4. Sterile Ceftazidine USP
5. Diamorphine injection BP
3. Pembawa
a. Pelarut air
Pembawa yang paling sering digunakan untuk produk steril adalah air, karena air
merupakan pembawa untuk semua cairan tubuh. Air yang digunakan dalam larutan
parenteral dan irigasi harus bebas pirogen
b. Pelarut bukan air
Dalam formulasi produk farmasi steril, kadang – kadang perlu mengeliminasi air
secara keseluruhan atau sebagian dari bahan pembawa, terutama karena factor
kelarutan atau reaksi hidrolisis
4. Zat-zat Tambahan
Zat-zat tambahan yang lazim digunakan dalam formulasi suatu sediaan steril
antara lain pengawet, pendapar, , antioksidan,kosolven, bahan pengisotonis dan
lain-lain. Setiap jenis zat tambahan mempunyai karakteristik serta keunggulan
masing-masing dan agar mendapatkan sediaan yang baik, karakteristik ini harus
dikenal sehingga tidak sampai salah memilh bahan saat formulasi.
a. Antioksidan : Garam-garam sulfurdioksida, termasuk bisulfit, metasulfit dan
sulfit adalah yang paling umum digunakan sebagai antioksidan. Selain itu
digunakan :Asam askorbat, Sistein, Monotiogliseril, Tokoferol.
b. Bahan antimikroba atau pengawet : Benzalkonium klorida, Benzil alcohol,
Klorobutanol, Metakreosol, Timerosol, Butil p-hidroksibenzoat, Metil
p-hidroksibenzoat, Propil p-hidroksibenzoat, Fenol.
c. Buffer : Asetat, Sitrat, Fosfat.
d. Bahan pengkhelat : Garam etilendiamintetraasetat (EDTA).
e. Gas inert : Nitrogen dan Argon.
f. Bahan penambah kelarutan (Kosolven) : Etil alcohol, Gliserin, Polietilen
glikol, Propilen glikol, Lecithin
g. Surfaktan : Polioksietilen dan Sorbitan monooleat.
h.
Bahan pengisotonis : Dekstrosa dan NaCl
i. Bahan pelindung : Dekstrosa, Laktosa, Maltosa dan Albumin serum manusia.
j. Bahan penyerbuk : Laktosa, Manitol, Sorbitol, Gliserin.
5. Macam-macam Sterilisasi
Tujuan sterilisasi adalah menjamin sterilitas produk mauppun karakteristik
kualitasnya, termasuk stabilitas produk. Adapun cara sterilisasi yang dapat
dilakukan untuk mendapatkan produk steril adalah sebagai berikut ;
a. Terminal Sterilization (Sterilisasi Akhir)
cara sterilisasi umum dan paling banyak digunakan.
Zat aktif harus stabil terhadap molekul air dan pada suhu sterilisasi. Sediaan
disterilkan pada tahap terakhir pembuatan sediaan. Semua alat setelah
lubang-lubangnya ditutup dengan kertas perkamen, disterilkan dengan cara
sterilisasi yang sesuai.
1. overkilled method adalah suatu metode strerilisasi menggunakan uap panas
pada 1210 C selama 15 menit. Metode ini dapat digunakan untuk bahan – bahan
yang tahan panas dan metode ini merupakan metode yang lebih efisien, cepat dan
aman
2. Bioburden Sterilization adalah metode sterilisasi yang memerlukan monitoring
yang ketat dan terkontrol, yaitu tingkat sterilitas yang dipersyaratkan SAL
10-6
b. Cara Aseptik
Terbatas pada sediaan yang mengandung zat aktif peka suhu tinggi dan dapat
mengakibatkan penguraian atau penurunan kerja farmakologinya. Antibiotika dan
beberapa hormon tertentu merupakan zat aktif yang sebaiknya diracik secara aseptik.
Cara aseptik bukanlah suatu metode sterilisasi , melainkan suatu cara kerja
untuk memperoleh sediaan steril dengan mencegah kontaminasi jasad renik dalam
sediaan.
Dalam FI III hal 18, proses aseptik adalah cara pengurusan bahan steril
menggunakan teknik yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya cemaran kuman
hingga seminimum mungkin. Teknik aseptik dimaksudkan untuk digunakan dalam
pembuatan sediaan steril yang tidak dapat dilakukan proses sterilisasi akhir
karena ketidakmantapan zatnya. Sterilitas hasil akhir hanya dapat disimpulkan
jika hasi itu memenuhi syarat Uji Sterilitas yang tertera pada Uji Keamanan
Hayati. Teknik aseptik penting sekali diperhatikan pada waktu melakukan
sterilisasi menggunakan cara sterilisasi C dan D tepatnya sewaktu memindahkan
atau memasukkan bahan steril kedalam wadah akhir steril.
Dalam pembuatan larutan steril menggunakan proses ini, obat steril dilarutkan
atau didispersikan dalam zat pembawa steril, diwadahkan dalam wadah steril,
akhirnya ditutup kedap untuk melindungi terhadap cemaran kuman. Semua alat yang
digunakan harus steril. Ruangan yang digunakan harus disterilkan terpisah dan
tekanan udaranya diatur positif dengan memasukkan udara yang telah dialirkan
melalui penyaring bakteri. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan tabir pelindung
atau dalam aliran udara steril.
2.
Macam-macam sterilisasi
a. Sterilisasi secara mekanik
(filtrasi)
b. Sterilisasi secara fisik
· Pemanasan
- Dengan api langsung
- Panas kering
- Uap air panas
- Uap air panas bertekanan
· Penyinaran UV
Macam-macam
sterilisasi
Pada
prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik,
fisik dan kimiawi.
1.
Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori
sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada
saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka
panas, misal nya larutan enzim dan antibiotik.
2.
Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.
·
Pemanasan
a.
Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh
alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.
b.
Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C.
Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer,
tabung reaksi dll.
c.
Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air
lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
d.
Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf
·
Penyinaran dengan UV
Sinar
Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk
membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan
disinari lampu UV
3.
Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara
lain alkohol.